Terjaga aku karena Kafein..
Sementara gumpalan awan hitam yang mungkin karena malam menutup sebagian dari wajah rembulan..
Bintang sedang sedikit, mungkin 3 sampai 4..
Dengan diberi imbuhan ratusan dibelakangnya..
Dan tiba-tiba aku teringat bintang gemuk yang kelihatan kecil, cantik, dan aku suka..
Tapi dia bukan kejora yang dibicarakan para orang tua agar anak kesayangan mereka terlelap..
Dia sedang bermimpi bersanding dengan bulan.. Senangnya..
Mereka sama-sama di antariksa, mungkin bisa saling bertemu berpapasan dan bertukar senyum.
Sementara di bumi,
aku menyaksikan bersama segala dingin angin malam, mereka bersanding menemani malam setiap makhluk bermata..
Ya, aku tengah sendiri berdiri di pinggir jalan.
Memandang dengan seksama setiap roda yang mengangkut tuannya.
Ya, aku sedang berpikir bagaimana caranya agar sesuatu yang dilepas akan dirasa ikhlas.
Ya, truk roda 6 itu menghantam pembatas jalan.
Terguncang terbalik menghunus warung didepan.
Ya, takdir memang selalu seperti itu, tidak terduga.
Bahkan ketika sudah berhati-hati.
Lalu gerimis datang tanpa membawa kartu undangan.
Dia mungkin lupa, hari ini bukan jadwalnya untuk hujan.
Sementara itu ia tetap fasih menghantam aspal hitam malam kelam.
Dan pantulan lampu kota menyilaukan segala macam yang merasa silau.
Akhirnya berhenti, tapi bekas itu masih ada dan mungkin akan hilang.
Bisa dengan cepat atau lama.
Atau bahkan tidak bisa..
Semoga saja mentari segera datang dan mengeringkan kota yang basah ini.
Dan seketika itu mereka sudah tidak terlihat lagi.
Sementara gumpalan awan hitam yang mungkin karena malam menutup sebagian dari wajah rembulan..
Bintang sedang sedikit, mungkin 3 sampai 4..
Dengan diberi imbuhan ratusan dibelakangnya..
Dan tiba-tiba aku teringat bintang gemuk yang kelihatan kecil, cantik, dan aku suka..
Tapi dia bukan kejora yang dibicarakan para orang tua agar anak kesayangan mereka terlelap..
Dia sedang bermimpi bersanding dengan bulan.. Senangnya..
Mereka sama-sama di antariksa, mungkin bisa saling bertemu berpapasan dan bertukar senyum.
Sementara di bumi,
aku menyaksikan bersama segala dingin angin malam, mereka bersanding menemani malam setiap makhluk bermata..
Ya, aku tengah sendiri berdiri di pinggir jalan.
Memandang dengan seksama setiap roda yang mengangkut tuannya.
Ya, aku sedang berpikir bagaimana caranya agar sesuatu yang dilepas akan dirasa ikhlas.
Ya, truk roda 6 itu menghantam pembatas jalan.
Terguncang terbalik menghunus warung didepan.
Ya, takdir memang selalu seperti itu, tidak terduga.
Bahkan ketika sudah berhati-hati.
Lalu gerimis datang tanpa membawa kartu undangan.
Dia mungkin lupa, hari ini bukan jadwalnya untuk hujan.
Sementara itu ia tetap fasih menghantam aspal hitam malam kelam.
Dan pantulan lampu kota menyilaukan segala macam yang merasa silau.
Akhirnya berhenti, tapi bekas itu masih ada dan mungkin akan hilang.
Bisa dengan cepat atau lama.
Atau bahkan tidak bisa..
Semoga saja mentari segera datang dan mengeringkan kota yang basah ini.
Dan seketika itu mereka sudah tidak terlihat lagi.
waktu itu, ketika jarum jam saling bertumpukan di angka paling atas
Komentar
Posting Komentar