Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2014

Malam Syahdu Penebar Aroma 5

Mencoba untuk tidak tertarik ke yang lain. Yang lain biarkanlah menjadi hiburan mata. Yasudah Kamu tau aku siapa? Aku tak tau. Mungkin dia tau. Eh salah, dia sendiri pun tak tau apa yang dia bicarakan. Semalam aku bermimpi tentangmu. ingin kuceritakan. Tapi aku lupa jalan ceritanya. Mungkin nanti akan kulanjutkan mimpiku. Semoga saja tak ada yang berubah dari jalan cerita semalam. Aku suka sekali. Apa itu semua gara-gara bantalku ini? Mungkin saja. Bantal ajaib yang kau berikan ini. Tak serta merta hanya pengganjal kepala tat kala tidurku. Tapi mampu menggapai angan tentangmu. Oh Kukira hanya mimpi di malam hari. Ternyata, itu mimpi disaat aku tertidur. Terjadi siang ini. Jumpa denganmu, kurasa mimpi. Ternyata iya. Aku banyak memiliki kelemahan. Salah satunya terhadapmu. Aku paham itu, tapi tak bisa mengubah itu. Sorry Apakah kau tau kemenangan yang sesungguhnya itu? Adalah ketika kau melindungi sesuatu yang paling berharga darimu. Aku? Melindungimu...

Malam Syahdu Penebar Aroma 4

Kulihat malam terang meneteskan air. Darinya ku dapati aroma sejarah yang akan terulang kembali. Berharap ku disadarkan. Tapi maaf, aku sudah sadar saat ku pertama kali berjumpa denganmu. Kau cantik, akupun Aku melihat dia berlindung kepada temannya. Sempat ku bercermin, wajahku tak seperti monster. Lalu kenapa kau takut kehadiranku? Tapi kamu tidak takut kan? Kau hebat! Aku suka. Apa kau masih ingin melihat yang lain? Akan kutunjukkan. Tidak!  Salah besar ketika temanmu berpikir kalau aku hanya akan menunjukkan sampah Aku bukan seperti itu. Itu yang lain. Bukan ku. Jarak rumahku dengan rumahmu hampir tiga puluh meter, tapi ku tak pernah berjumpa denganmu. Apa kau punya pintu belakang? Aku ingin tahu. Apa kau sedang sibuk Hingga aku jarang melihat wajah se-elok bidadari khayangan keluar dari istananya. Aku tak yakin. Aku selalu melhatmu tidak melakukan apa-apa. Aku melihatmu setiap malam. Tapi sayang, ketika aku tidu...

Malam Syahdu Penebar Aroma 3

Aku melihatmu dari kejauhan. Jauh Seperti bukan kamu. Apa aku salah melihat orang? Tapi aku yakin, aku tidak salah menilai orang. Aku sedih mendengar Schumacher koma. Tapi aku lebih sedih ketika kamu berkata tanpa koma, membuat persepsi berbeda. Ada seorang di depanku. AKu tak tau itu semua benar atau tidak. Bercerita tentangnya, covernya tidak menunjukkan. Aku salah menilai. Pekerja di India, cerita ke junior. Pembawaan ceritanya tidak enak didengar. Kusebul dengan asap rokok. Dia menghilang. Aku suka dia, kau pun. Tapi kumohon jangan berbuat yang merugikan. Kau masih punya kehidupan. Lihat lingkungan, lihat ! Haruskah di akhiri dengan kata selesai? Belum tentu. Masih mungkin ada hari esok

Malam Syahdu Penebar Aroma 2

Aku  love you with  semua tentang dirimu. Bukan hanya wajahmu yang seperti orang lain lakukan. Kamu  perfect  buatku. Tapi aku siapa? Lalu memang dia datang tanpa di undang kepermukaan, cerita panjang lebar. Dan lalu menghasut semua. Lalu aku kemana? Kamu disitu saja cinta Ketika aku bukan siapa-siapa. dia datang mendapatkanmu. Yang memang telah lebih lama menjadi orang yang ada untuk mengasihimu. Tapi? Aku tidak Dia punya pengalaman yang tak kumiliki. Aku siapa dibanding dia? Tidak ada. Dia Superman! Hidupnya perjalanan panjang, Aku? Shortcut  penuh pengeluhan. Pantaskah aku mendampingimu? Atau tidak. Seperti ini, Aku lulus, menjadi orang. Dan kembali untuk mengejarmu. Agar kau tahu, Hidupku juga memiliki cerita motivasi. Sedari tadi aku tak berpikir sama sekali. Pikiranku terperangkap dalam mu. Aku hanya membual. Laiknya daun terombang-ambing air laut Tapi daun itu tau, Dia pada akhirnya akan ketepian dimana keselamatan menan...

Malam Syahdu Penebar Aroma

Coba kau mengerti maksudku, pahamilah. Aku bukannya tidak menyukai, tidak sama sekali. Ketika aku berkata seperti itu pada saat itu, aku sedang berpikir apa kata yang tepat yang akan ku ucapkan kemudian. Lalu dia datang dengan kewibawaan. Dan benar, pada saat itu aku menyukaimu. Tanpa rencana, tanpa bualan, tanpa tingkatan. Tapi aku tidak tahu, apa kamu melihatku? Kau tidak melihatku? Tak apa. Aku tulus tanpa pamrih. Tak perlu mengumbar kepada banyak orang perasaan ini. Memandang picture curian pun aku senang. Aku tak tau apa kau membicarakan aku di depan temanmu, Atau kau hanya mengatakan cerita kepadanya. Tapi aku suka senyum manis bibirmu. Kau suka itu? akan kubelikan untukmu. Aku tak butuh pamrih, Aku hanya ingin kau bahagia. Itu saja, Aku tak butuh kehadiranmu. Menunggu hingga akhirnya kau tak ada pun tak masalah buatku. Aku suka berhitung, kau juga kan? Kita sama. Lalu kenapa?

Less or More?

Maunya ku rutin untuk terus menumbukkan jemari tangan kepada tuas-tuas keyboard Laptop kesayangan. Tapi yang kurasakan adalah semua yang berlawanan dengan apa yang aku inginkan. Semua tidak terjadi. Aku takut Aku takut ketika aku menulis, ketika aku memberi sebuah tulisan motivasi, ketika aku memberi sebuah perancangan kebaikan kepada orang lain. Namun aku tidak melaksanakannya. Aku takut itu. Tuhanku mengganjar ku dengan Neraka kepada orang orang yang berbicara kepada kebaikan, namun dia sendiri tidak menjalankan kebaikan itu sendiri. Kapasitasku belum mampu untuk melakukan kebaikan itu. Tapi aku sudah mampu mengajak mereka. Aneh kan? Seperti Write More, Do Less "Banyak orang yang juga keliru saat mengingatkan orang lain dan menunjukkan kesalahan mereka. Meskipun dapat menunjukkan kesalahan orang lain, kesimpulan anda belum tentu benar walau anda sangat yakin"