Coba kau mengerti maksudku, pahamilah.
Aku bukannya tidak menyukai, tidak sama sekali.
Ketika aku berkata seperti itu pada saat itu,
aku sedang berpikir apa kata yang tepat yang akan ku ucapkan kemudian.
Lalu dia datang dengan kewibawaan.
Dan benar, pada saat itu aku menyukaimu.
Tanpa rencana, tanpa bualan, tanpa tingkatan.
Tapi aku tidak tahu, apa kamu melihatku?
Kau tidak melihatku? Tak apa.
Aku tulus tanpa pamrih.
Tak perlu mengumbar kepada banyak orang perasaan ini.
Memandang picture curian pun aku senang.
Aku tak tau apa kau membicarakan aku di depan temanmu,
Atau kau hanya mengatakan cerita kepadanya.
Tapi aku suka senyum manis bibirmu.
Kau suka itu? akan kubelikan untukmu.
Aku tak butuh pamrih,
Aku hanya ingin kau bahagia. Itu saja,
Aku tak butuh kehadiranmu.
Menunggu hingga akhirnya kau tak ada pun tak masalah buatku.
Aku suka berhitung, kau juga kan?
Kita sama. Lalu kenapa?
Aku bukannya tidak menyukai, tidak sama sekali.
Ketika aku berkata seperti itu pada saat itu,
aku sedang berpikir apa kata yang tepat yang akan ku ucapkan kemudian.
Lalu dia datang dengan kewibawaan.
Dan benar, pada saat itu aku menyukaimu.
Tanpa rencana, tanpa bualan, tanpa tingkatan.
Tapi aku tidak tahu, apa kamu melihatku?
Kau tidak melihatku? Tak apa.
Aku tulus tanpa pamrih.
Tak perlu mengumbar kepada banyak orang perasaan ini.
Memandang picture curian pun aku senang.
Aku tak tau apa kau membicarakan aku di depan temanmu,
Atau kau hanya mengatakan cerita kepadanya.
Tapi aku suka senyum manis bibirmu.
Kau suka itu? akan kubelikan untukmu.
Aku tak butuh pamrih,
Aku hanya ingin kau bahagia. Itu saja,
Aku tak butuh kehadiranmu.
Menunggu hingga akhirnya kau tak ada pun tak masalah buatku.
Aku suka berhitung, kau juga kan?
Kita sama. Lalu kenapa?
Komentar
Posting Komentar