Kulihat malam terang meneteskan air.
Darinya ku dapati aroma sejarah yang akan terulang kembali.
Berharap ku disadarkan.
Tapi maaf,
aku sudah sadar saat ku pertama kali berjumpa denganmu.
Kau cantik, akupun
Aku melihat dia berlindung kepada temannya.
Sempat ku bercermin, wajahku tak seperti monster.
Lalu kenapa kau takut kehadiranku?
Tapi kamu tidak takut kan?
Kau hebat! Aku suka.
Apa kau masih ingin melihat yang lain?
Akan kutunjukkan.
Tidak!
Salah besar ketika temanmu berpikir kalau aku hanya akan menunjukkan sampah
Aku bukan seperti itu. Itu yang lain.
Bukan ku.
Jarak rumahku dengan rumahmu hampir tiga puluh meter,
tapi ku tak pernah berjumpa denganmu.
Apa kau punya pintu belakang?
Aku ingin tahu.
Apa kau sedang sibuk
Hingga aku jarang melihat wajah se-elok bidadari khayangan keluar dari istananya.
Aku tak yakin.
Aku selalu melhatmu tidak melakukan apa-apa.
Aku melihatmu setiap malam.
Tapi sayang, ketika aku tidur.
Tak apalah, yang penting aku melihatmu.
Kini memang benar-benar kau menjauh dariku.
Tak ada khabar.
Bahkan saat aku berlangganan harian surat kabar.
Episodemu tak kunjung beredar.
Kau lihat tetangga baru itu?
Tak jauh beda denganku.
Bahkan aku lebih dibanding dia, lebih buruk.
Tapi aku yakin kau takkan berpaling.
Iya kan?
Benar kan?
Aku tidak salah kan?
Bolehkah aku tertawa?
Oh jangan, tidak.
Aku tidak boleh sesumbar.
Sebentar lagi hari spesial mu.
Aku sudah ada rencana, tapi aku tak punya lencana.
Bukan pemberani, aku ngeri.
Aku diam saja.
Aku menunda itu semua.
Karena apa? Karena aku takut kau tak menerimanya.
Aku malu, aku tak ada keberanian.
Tak seperti dia.
Bukankah hari ini sudah menjadi hari baru?
Lantas mengapa kau masih terjaga?
Ingin meramaikan Pos Ronda?
Tolong kau yang disana,
bacakan aku sebuah cerita penghantar tidur.
Aku sudah terlalu lelah untuk terus seperti ini.
Komentar
Posting Komentar