Langsung ke konten utama

Malam Syahdu Penebar Aroma 4

Kulihat malam terang meneteskan air.
Darinya ku dapati aroma sejarah yang akan terulang kembali.

Berharap ku disadarkan.
Tapi maaf,
aku sudah sadar saat ku pertama kali berjumpa denganmu.
Kau cantik, akupun

Aku melihat dia berlindung kepada temannya.
Sempat ku bercermin, wajahku tak seperti monster.
Lalu kenapa kau takut kehadiranku?

Tapi kamu tidak takut kan?
Kau hebat! Aku suka.
Apa kau masih ingin melihat yang lain?
Akan kutunjukkan.

Tidak! 
Salah besar ketika temanmu berpikir kalau aku hanya akan menunjukkan sampah
Aku bukan seperti itu. Itu yang lain.
Bukan ku.

Jarak rumahku dengan rumahmu hampir tiga puluh meter,
tapi ku tak pernah berjumpa denganmu.
Apa kau punya pintu belakang?
Aku ingin tahu.

Apa kau sedang sibuk
Hingga aku jarang melihat wajah se-elok bidadari khayangan keluar dari istananya.
Aku tak yakin.

Aku selalu melhatmu tidak melakukan apa-apa.
Aku melihatmu setiap malam.
Tapi sayang, ketika aku tidur.
Tak apalah, yang penting aku melihatmu.

Kini memang benar-benar kau menjauh dariku.
Tak ada khabar.
Bahkan saat aku berlangganan harian surat kabar.
Episodemu tak kunjung beredar.

Kau lihat tetangga baru itu?
Tak jauh beda denganku.
Bahkan aku lebih dibanding dia, lebih buruk.
Tapi aku yakin kau takkan berpaling.

Iya kan?
Benar kan?
Aku tidak salah kan?
Bolehkah aku tertawa?
Oh jangan, tidak.
Aku tidak boleh sesumbar.

Sebentar lagi hari spesial mu.
Aku sudah ada rencana, tapi aku tak punya lencana.
Bukan pemberani, aku ngeri.
Aku diam saja.

Aku menunda itu semua. 
Karena apa? Karena aku takut kau tak menerimanya.
Aku malu, aku tak ada keberanian.
Tak seperti dia.

Bukankah hari ini sudah menjadi hari baru?
Lantas mengapa kau masih terjaga?
Ingin meramaikan Pos Ronda?

Tolong kau yang disana,
bacakan aku sebuah cerita penghantar tidur.
Aku sudah terlalu lelah untuk terus seperti ini.

Komentar

Popular Posts

Jenuh

Kalian tau? Awal mula seseorang mendapat sebuah kesenangan dalam melakukan suatu hal. Mereka pasti akan sangat sangat antusias dalam melakukan hal tersebut. Sigap, cepat, cekatan. Persetan dengan tenaga yang terkuras habis. Lantas bagaimana jika sebuah kesenangan yang antusias tersebut sudah tidak menjadi prioritas, menjadi sebuah kebosanan dalam diri kita? Ya, kalian pasti akan angin anginan dalam melakukan hal tersebut. Malas. Baru akan melakukan saja sudah mengeluh cape'. Ya harus bagaimana lagi. Mood kita akan sesuatu itu sudah terkikis. Tidak timbul lagi sebuah kesenangan dalam melakukan hal itu. Monoton. Mencoba menciptakan variasi baru juga mungkin hanya bertahan sebentar. Butuh penyemangat diri, bukan sebuah kalimat motivator yang berada di mading kampus, atau billboard gede di tengah persimpangan. bukan kata-kata manis seorang motivator handal. Saya rasa itu sama saja. Tidak akan mengubah antusiasme kalian. Mungkin beberapa kasus memang bisa di atasi dengan cara ...

Malam

Terjaga aku karena Kafein.. Sementara gumpalan awan hitam yang mungkin karena malam menutup sebagian dari wajah rembulan.. Bintang sedang sedikit, mungkin 3 sampai 4.. Dengan diberi imbuhan ratusan dibelakangnya.. Dan tiba-tiba aku teringat bintang gemuk yang kelihatan kecil, cantik, dan aku suka.. Tapi dia bukan kejora yang dibicarakan para orang tua agar anak kesayangan mereka terlelap.. Dia sedang bermimpi bersanding dengan bulan.. Senangnya.. Mereka sama-sama di antariksa, mungkin bisa saling bertemu berpapasan dan bertukar senyum. Sementara di bumi, aku menyaksikan bersama segala dingin angin malam, mereka bersanding menemani malam setiap makhluk bermata.. Ya, aku tengah sendiri berdiri di pinggir jalan. Memandang dengan seksama setiap roda yang mengangkut tuannya. Ya, aku sedang berpikir bagaimana caranya agar sesuatu yang dilepas akan dirasa ikhlas. Ya, truk roda 6 itu menghantam pembatas jalan. Terguncang terbalik menghunus warung didepan. Ya, takdir memang...

Jujur atau Menjujurkan

Kalian pasti senang dipuji. Senang sekali. Itu pasti. Tapi pernahkah kalian merasa bahwa Pujian yang kalian rasakan itu sebenarnya dapat membuat anda menjadi seorang Yang berbeda? Ya berbeda. Cenderung lebih Malas. Malas untuk Instropeksi. Karena merasa sudah baik atau benar. Sejujurnya, pujian yang dilontarkan seseorang kepada kalian itu tidak semuanya benar. Bisa jadi itu adalah sebuah "pemanis" agar kamu dan dia lebih dekat. Terkadang jujur akan kekurangan atau kejelekan seseorang itu lebih baik dari pada bohong akan kebaikannya. Tapi kalian harus mencari waktu yang tepat untuk mengungkapkannya. Jangan sampai kau membuat dia menjadi sakit hati dengan kejujuranmu. Kata-Kata yang enak didengar cenderung meninabobokkan orang, Tetapi belum tentu bermanfaat dan sering mencelakakan. Berbicara jujur adalah dasar dari Kebenaran.