Langsung ke konten utama

Orang Lain

Berbeda Fakultas, berbeda pula cara pikir atau cara pandang seseorang.
Bahkan, Perilakunya pun berbeda.

Itulah.
Bukan bermaksud untuk diskriminasi fakultas.
Atau bermaksud untuk meruntuhkan integritas kita sebagai mahasiswa satu Universitas.
Dan juga bukan untuk meninggikan derajat fakultas sendiri yang memang tinggi. Serius.
Tidak,
Lupakan.

Saya tidak bermaksud membicarakan tentang di atas.

Berwawasan luas, Pintar, tentang sejarah agama paham, mengerti dalil.
Namun sayang.
Tidak ada Moral.
Keras Kepala.
Dan tidak dapat menerima saran orang lain.

Mau di apakan orang seperti ini?
Bunuh?
Bakar?
Kebiri?

Setelah di telusuri latar belakangnya.
Dan, taraaaaa
Semua terungkap.
Dan katanya memang orang yang latar belakangnya dari situ adalah orang yang tidak kenal "pantang menyerah".
Kenapa saya beri tanda kutip.
Karena pantang menyerah dia disini tidak dibarengi etika yang baik.
Pantang menyerahnya adalah dalam hal yang dia ingin menangnya sendiri.
Bukan dalam menggapai sesuatu yang berharga.

Tapi, orang seperti dia adalah orang yang sukses. Kenapa?
Karena dia termasuk orang-orang yang diperhatikan orang lain.
Ya, bukan dalam artian bagus.

Belajarlah ilmu pengetahuan sampai ke negeri Cina.
Tapi jika tidak di barengi etika moral perilaku. Tak ada gunanya.

Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial. Saling menghargai satu sama lain adalah cara untuk memupuk rasa sosialisme itu. Agar kau mendapatkan kehidupan seperti yang kau inginkan.

Komentar

Popular Posts

Jenuh

Kalian tau? Awal mula seseorang mendapat sebuah kesenangan dalam melakukan suatu hal. Mereka pasti akan sangat sangat antusias dalam melakukan hal tersebut. Sigap, cepat, cekatan. Persetan dengan tenaga yang terkuras habis. Lantas bagaimana jika sebuah kesenangan yang antusias tersebut sudah tidak menjadi prioritas, menjadi sebuah kebosanan dalam diri kita? Ya, kalian pasti akan angin anginan dalam melakukan hal tersebut. Malas. Baru akan melakukan saja sudah mengeluh cape'. Ya harus bagaimana lagi. Mood kita akan sesuatu itu sudah terkikis. Tidak timbul lagi sebuah kesenangan dalam melakukan hal itu. Monoton. Mencoba menciptakan variasi baru juga mungkin hanya bertahan sebentar. Butuh penyemangat diri, bukan sebuah kalimat motivator yang berada di mading kampus, atau billboard gede di tengah persimpangan. bukan kata-kata manis seorang motivator handal. Saya rasa itu sama saja. Tidak akan mengubah antusiasme kalian. Mungkin beberapa kasus memang bisa di atasi dengan cara ...

Malam

Terjaga aku karena Kafein.. Sementara gumpalan awan hitam yang mungkin karena malam menutup sebagian dari wajah rembulan.. Bintang sedang sedikit, mungkin 3 sampai 4.. Dengan diberi imbuhan ratusan dibelakangnya.. Dan tiba-tiba aku teringat bintang gemuk yang kelihatan kecil, cantik, dan aku suka.. Tapi dia bukan kejora yang dibicarakan para orang tua agar anak kesayangan mereka terlelap.. Dia sedang bermimpi bersanding dengan bulan.. Senangnya.. Mereka sama-sama di antariksa, mungkin bisa saling bertemu berpapasan dan bertukar senyum. Sementara di bumi, aku menyaksikan bersama segala dingin angin malam, mereka bersanding menemani malam setiap makhluk bermata.. Ya, aku tengah sendiri berdiri di pinggir jalan. Memandang dengan seksama setiap roda yang mengangkut tuannya. Ya, aku sedang berpikir bagaimana caranya agar sesuatu yang dilepas akan dirasa ikhlas. Ya, truk roda 6 itu menghantam pembatas jalan. Terguncang terbalik menghunus warung didepan. Ya, takdir memang...

Jujur atau Menjujurkan

Kalian pasti senang dipuji. Senang sekali. Itu pasti. Tapi pernahkah kalian merasa bahwa Pujian yang kalian rasakan itu sebenarnya dapat membuat anda menjadi seorang Yang berbeda? Ya berbeda. Cenderung lebih Malas. Malas untuk Instropeksi. Karena merasa sudah baik atau benar. Sejujurnya, pujian yang dilontarkan seseorang kepada kalian itu tidak semuanya benar. Bisa jadi itu adalah sebuah "pemanis" agar kamu dan dia lebih dekat. Terkadang jujur akan kekurangan atau kejelekan seseorang itu lebih baik dari pada bohong akan kebaikannya. Tapi kalian harus mencari waktu yang tepat untuk mengungkapkannya. Jangan sampai kau membuat dia menjadi sakit hati dengan kejujuranmu. Kata-Kata yang enak didengar cenderung meninabobokkan orang, Tetapi belum tentu bermanfaat dan sering mencelakakan. Berbicara jujur adalah dasar dari Kebenaran.