Langsung ke konten utama

Edupark

Hari Rabu jam 12 siang yang panas, kita ber-3 menuju edupark yang terpilih sebagai objek tujuan. Kami kira akan sepi karena siang hari dan panas. Tapi nyatanya masih banyak saja yang berkunjung. 20 orang yang terhitung atau bahkan lebih. Dan mereka adalah siswa SMA atau SMP atau Mahasiswa dan atau juga bapak-bapak perawat rumput lapangan sepak bola yang ada di sana. Pepohonan disini tidak terlalu rindang memang, tapi cukup asri. Dengan sejuk angin meniup sela-sela pohon jati yang daunnya gugur kebawah dan belum di bersihkan. Katanya buat kompos untuk nanti jadi pupuk. Oh iya, disini, di edupark ini ada sebuah tempat untuk peng-kompos-an. Jadi daun-daun yang jatuh karena waktunya, atau segala yang ada di sini diolah di tempat yang bernama “rumah kompos” agar taman ini bisa produktif. Bukan hanya sebagai sarana untuk melepas penat di sore hari, atau jogging untuk membentuk tubuh sehat dan kuat. Pun juga dengan kompos yang nantinya juga untuk pupuk daripada tanaman disini.

Rumah Kompos


Disetiap tanaman yang ada disini, ada sebuah papan yang bertuliskan tentang nama tanaman atau apa saja mengenai tanaman tersebut. Dulu kami pernah kesini dan bagus, namun saat hari Rabu kemarin. Tulisan yang ada di dalam papan tersebut hilang atau bahkan rusak karena tidak terawat. Padahal untuk masuk ke edupark ini, kita harus membayar uang retribusi. Tidak terlalu mahal memang, hanya Rp.1000 (seribu rupiah). Memang Rp.1000 terlalu murah untuk kita yang ingin menikmati taman sesuai keinginan atau bahkan taman layaknya taman-taman india. Tapi paling tidak, kebersihan taman sangat penting. Pun dengan pengunjung yang seharusnya mengerti tentang sampah. Atau bisa membaca dimana tempat yang pas untuk membuang sampah. Sehingga tidak mengotori edupark itu sendiri.




Dari beberapa atau bahkan sebagian pengunjung pada siang hari nan panas itu kami sedikit melakukan pertanyaan. Dan iya, jawaban mereka kompak. Ke edupark hanya untuk main-main saja. Ada yang karena selesai UKK (Ujian Kenaikan Kelas), ada yang hanya lewat dan mampir, ada juga yang memang kesini jauh-jauh dari Simo hanya karena ingin tau dan sekedar lewat. Mereka berkata bahwa Rp.1000 memang tidak membebani, tapi panas nya siang itu yang sangat membebani. Ketika ditanya kenapa tidak datang ke sini sore hari, jawaban mereka sama. Atau jangan-jangan mereka ini saudara. “Karena siang sepi dan enak, tapi panas, bisa buat nongkrong cantik sambil foto-fotoan.” Jawab salah satu remaja perempuan SMA yang bersama teman-temannya berada disitu sambil bawa balon dan dengan kamera HP mengambil gambar dari masing-masing temannya. 

solehamini.blogspot.com

Komentar

Popular Posts

Jenuh

Kalian tau? Awal mula seseorang mendapat sebuah kesenangan dalam melakukan suatu hal. Mereka pasti akan sangat sangat antusias dalam melakukan hal tersebut. Sigap, cepat, cekatan. Persetan dengan tenaga yang terkuras habis. Lantas bagaimana jika sebuah kesenangan yang antusias tersebut sudah tidak menjadi prioritas, menjadi sebuah kebosanan dalam diri kita? Ya, kalian pasti akan angin anginan dalam melakukan hal tersebut. Malas. Baru akan melakukan saja sudah mengeluh cape'. Ya harus bagaimana lagi. Mood kita akan sesuatu itu sudah terkikis. Tidak timbul lagi sebuah kesenangan dalam melakukan hal itu. Monoton. Mencoba menciptakan variasi baru juga mungkin hanya bertahan sebentar. Butuh penyemangat diri, bukan sebuah kalimat motivator yang berada di mading kampus, atau billboard gede di tengah persimpangan. bukan kata-kata manis seorang motivator handal. Saya rasa itu sama saja. Tidak akan mengubah antusiasme kalian. Mungkin beberapa kasus memang bisa di atasi dengan cara ...

Malam

Terjaga aku karena Kafein.. Sementara gumpalan awan hitam yang mungkin karena malam menutup sebagian dari wajah rembulan.. Bintang sedang sedikit, mungkin 3 sampai 4.. Dengan diberi imbuhan ratusan dibelakangnya.. Dan tiba-tiba aku teringat bintang gemuk yang kelihatan kecil, cantik, dan aku suka.. Tapi dia bukan kejora yang dibicarakan para orang tua agar anak kesayangan mereka terlelap.. Dia sedang bermimpi bersanding dengan bulan.. Senangnya.. Mereka sama-sama di antariksa, mungkin bisa saling bertemu berpapasan dan bertukar senyum. Sementara di bumi, aku menyaksikan bersama segala dingin angin malam, mereka bersanding menemani malam setiap makhluk bermata.. Ya, aku tengah sendiri berdiri di pinggir jalan. Memandang dengan seksama setiap roda yang mengangkut tuannya. Ya, aku sedang berpikir bagaimana caranya agar sesuatu yang dilepas akan dirasa ikhlas. Ya, truk roda 6 itu menghantam pembatas jalan. Terguncang terbalik menghunus warung didepan. Ya, takdir memang...

Jujur atau Menjujurkan

Kalian pasti senang dipuji. Senang sekali. Itu pasti. Tapi pernahkah kalian merasa bahwa Pujian yang kalian rasakan itu sebenarnya dapat membuat anda menjadi seorang Yang berbeda? Ya berbeda. Cenderung lebih Malas. Malas untuk Instropeksi. Karena merasa sudah baik atau benar. Sejujurnya, pujian yang dilontarkan seseorang kepada kalian itu tidak semuanya benar. Bisa jadi itu adalah sebuah "pemanis" agar kamu dan dia lebih dekat. Terkadang jujur akan kekurangan atau kejelekan seseorang itu lebih baik dari pada bohong akan kebaikannya. Tapi kalian harus mencari waktu yang tepat untuk mengungkapkannya. Jangan sampai kau membuat dia menjadi sakit hati dengan kejujuranmu. Kata-Kata yang enak didengar cenderung meninabobokkan orang, Tetapi belum tentu bermanfaat dan sering mencelakakan. Berbicara jujur adalah dasar dari Kebenaran.