"Orang pintar minum Tolak Angin. Orang nggak pintar, nyinyirin orang yang minum Tolak angin.. Hidup ini gitu, nggak mau minum tolak angin."
Sudah di beri kesempatan untuk menentukan, tidak memakai apa yang telah di beri. menyia-nyiakan nya dan lalu berspekulasi bahwa merasa dikhianati.
"Jika sakit berlanjut, hubungi dokter. Kalau nggak punya pulsa, ya beli. Jangan ngomel-ngomel nyinyir, terus ngehina dokter."
Masih saja seperti ini dari dulu. Ada keluhan tidak berkata, setelah lebih, malah ngata-ngatain yang bersangkutan.
"Buat anak kok coba-coba. Jadi maunya gimana? Masih harus ngikutin kemauan? Ya gimana yaa.. Nggak maju."
Keinginan itu memang perlu, tapi kebutuhan itu penting. Tidak perduli apa, jika memang sangat mendesak, maka dahulukan
"Jauh di mata, dekat di hati. Jauh disana, eh jauh disini. Nggak terlihat meski kamu sebegitu semangat. Nah disini, aku hanya untukmu."
Kalian berkata demikian dibelakang, tidak mungkin mereka mengerti. Katakanlah dalam lantang secara resmi. Dan ini untukmu
"Karena rasa adalah segalanya. Tapi Demi rasa, meski tidak sependapat, aku rela."
Tidak harus sependapat untuk mencapai suatu kesuksesan kelompok.
"Apapun yang terjadi, kalianlah yang sebelumnya menentukan. Jangan jadi pelecut amarah ketidakadilan yang padahal dari diri anda."
Sia-sia semua. Makanya selektif dalam mendapatkan sesuatu, lihat sumber, jangan ngikut bebek saja. Kalo perlu, terbang.
Komentar
Posting Komentar