Gerimis sendu di hari setelah Rabu
Awan menggumpal hitam akan menangis
Kerbau betina, juga jantan masih riang gembira berkubang
Kulitnya mungkin tebal menahan air berbaris-baris
Aku, lebih memilih untuk duduk dibawah naungan gubuk ditengah pematang
Tentram,
Melihat senang kerbau jantan bersama betinanya
Juga ditemani angin yang membawa aku hanyut dalam fantasi
Membayangkan jika saja aku yang berada di bawah air hujan
Kulitku adalah kulit bayi, kena angin sedikit saja menggigil
Ingin sekali aku bersenang-senang saat hujan gerimis
Tertawa lepas, bukan menangis
Tapi kenapa aku harus cemburu pada si Jantan?
Aku juga bukan siapa-siapa si Betina
Lagian, ia adalah milik pemiliknya yang sedang meniup seruling di bawah pohon besar itu
Bagaimanapun, aku tidak bisa apa-apa
Hanya mampu melihat dari kejauhan si Kerbau sedang riang hatinya
Dan sepertinya, ia melirik ke arahku
Dan atau mungkin bahkan membicarakan aku yang sendiri mencoret-coret awan dengan angan . . . .
Awan menggumpal hitam akan menangis
Kerbau betina, juga jantan masih riang gembira berkubang
Kulitnya mungkin tebal menahan air berbaris-baris
Aku, lebih memilih untuk duduk dibawah naungan gubuk ditengah pematang
Tentram,
Melihat senang kerbau jantan bersama betinanya
Juga ditemani angin yang membawa aku hanyut dalam fantasi
Membayangkan jika saja aku yang berada di bawah air hujan
Kulitku adalah kulit bayi, kena angin sedikit saja menggigil
Ingin sekali aku bersenang-senang saat hujan gerimis
Tertawa lepas, bukan menangis
Tapi kenapa aku harus cemburu pada si Jantan?
Aku juga bukan siapa-siapa si Betina
Lagian, ia adalah milik pemiliknya yang sedang meniup seruling di bawah pohon besar itu
Bagaimanapun, aku tidak bisa apa-apa
Hanya mampu melihat dari kejauhan si Kerbau sedang riang hatinya
Dan sepertinya, ia melirik ke arahku
Dan atau mungkin bahkan membicarakan aku yang sendiri mencoret-coret awan dengan angan . . . .
Komentar
Posting Komentar