Langsung ke konten utama

Nyerah?

Sedikit banyak terkadang rindu menulis. Menumpahkan gundah, perasaan, pikiran, dan sambatan.

    Virus terkini sukses merenggut ayah tercinta dari istriku.

Berbeda dengan mertua yang kalah. Saya sukses melewati hadangan virus itu. 10 hari isoman, pada mulanya terasa lama. Apalagi saya harus mengungsi ke kamar lain, meninggalkan istri dan anak. Rindu sudah pasti. Padahal hanya berbeda kamar saja.

Apalagi rindu kepada orang yang tidak akan kembali?

Tidak hanya istri saya yang kehilangan orang tercintanya. Cinta pertamanya. 

Jumlah kematian akibat virus ganas ini tinggi sekali grafiknya. Sabang hingga Merauke ada minimal satu. Kuatlah kalian yang ditinggalkan. Hidup ini terus berjalan bagi kalian yang hidup.

Hari ini, saya sudah terbebas dari isoman. Sudah bisa mencium istri dan anak. Meski, anosmia ini masih bertahan. Tidak bisa mencium ini enak nggak enak. Untungnya saya masih bisa merasa. Terutama, merasa prihatin dengan keadaan diri saya sendiri yang sangat terdampak akibat pandemi.

Sialan.

Tidak terasa setelah selesai isoman, ternyata sudah tanggal 10 Agustus. Tiba-tiba saja 2021 tinggal beberapa bulan saja. Dan saya tidak ada perkembangan signifikan dari pekerjaan, kompetensi, atau apapun itu.

Saya sebenarnya sadar, bahwa 

    "Waktu itu terus bergerak, bahkan ketika kau diam" Pidi Baiq

kata-kata ayah Pidi ini benar banget. Kamu berdiam diri, even itu scroll ig tiktok atau apapun itu. Waktu itu terus begerak.

Pas aku tidur siang dengan nyenyak akibat efek samping obat, ternyata di luar sana banyak orang yang mencari nafkah agar dapurnya bisa ngebul.

Saya sadar bahwa apapun yang saya kerjakan ini akan berefek pada diri saya sendiri.

Tapi rasa-rasanya, hidup ini terlalu kejam. Ditambah lagi adanya pandemi. Ya ampun. 

bertubi-tubi


Tapi ini bukan saatnya untuk menyerah, aku bahkan belum maju-maju banget untuk berperang. Nanti, ketika mungkin sudah perang dan kurasa ada momen untuk menyerah. 

tidak. . . . .

Sepertinya tidak akan kuambil kata menyerah itu.

Saya

Mau 

Istirahat

Saja


Komentar

Popular Posts

Jenuh

Kalian tau? Awal mula seseorang mendapat sebuah kesenangan dalam melakukan suatu hal. Mereka pasti akan sangat sangat antusias dalam melakukan hal tersebut. Sigap, cepat, cekatan. Persetan dengan tenaga yang terkuras habis. Lantas bagaimana jika sebuah kesenangan yang antusias tersebut sudah tidak menjadi prioritas, menjadi sebuah kebosanan dalam diri kita? Ya, kalian pasti akan angin anginan dalam melakukan hal tersebut. Malas. Baru akan melakukan saja sudah mengeluh cape'. Ya harus bagaimana lagi. Mood kita akan sesuatu itu sudah terkikis. Tidak timbul lagi sebuah kesenangan dalam melakukan hal itu. Monoton. Mencoba menciptakan variasi baru juga mungkin hanya bertahan sebentar. Butuh penyemangat diri, bukan sebuah kalimat motivator yang berada di mading kampus, atau billboard gede di tengah persimpangan. bukan kata-kata manis seorang motivator handal. Saya rasa itu sama saja. Tidak akan mengubah antusiasme kalian. Mungkin beberapa kasus memang bisa di atasi dengan cara ...

Malam

Terjaga aku karena Kafein.. Sementara gumpalan awan hitam yang mungkin karena malam menutup sebagian dari wajah rembulan.. Bintang sedang sedikit, mungkin 3 sampai 4.. Dengan diberi imbuhan ratusan dibelakangnya.. Dan tiba-tiba aku teringat bintang gemuk yang kelihatan kecil, cantik, dan aku suka.. Tapi dia bukan kejora yang dibicarakan para orang tua agar anak kesayangan mereka terlelap.. Dia sedang bermimpi bersanding dengan bulan.. Senangnya.. Mereka sama-sama di antariksa, mungkin bisa saling bertemu berpapasan dan bertukar senyum. Sementara di bumi, aku menyaksikan bersama segala dingin angin malam, mereka bersanding menemani malam setiap makhluk bermata.. Ya, aku tengah sendiri berdiri di pinggir jalan. Memandang dengan seksama setiap roda yang mengangkut tuannya. Ya, aku sedang berpikir bagaimana caranya agar sesuatu yang dilepas akan dirasa ikhlas. Ya, truk roda 6 itu menghantam pembatas jalan. Terguncang terbalik menghunus warung didepan. Ya, takdir memang...

Jujur atau Menjujurkan

Kalian pasti senang dipuji. Senang sekali. Itu pasti. Tapi pernahkah kalian merasa bahwa Pujian yang kalian rasakan itu sebenarnya dapat membuat anda menjadi seorang Yang berbeda? Ya berbeda. Cenderung lebih Malas. Malas untuk Instropeksi. Karena merasa sudah baik atau benar. Sejujurnya, pujian yang dilontarkan seseorang kepada kalian itu tidak semuanya benar. Bisa jadi itu adalah sebuah "pemanis" agar kamu dan dia lebih dekat. Terkadang jujur akan kekurangan atau kejelekan seseorang itu lebih baik dari pada bohong akan kebaikannya. Tapi kalian harus mencari waktu yang tepat untuk mengungkapkannya. Jangan sampai kau membuat dia menjadi sakit hati dengan kejujuranmu. Kata-Kata yang enak didengar cenderung meninabobokkan orang, Tetapi belum tentu bermanfaat dan sering mencelakakan. Berbicara jujur adalah dasar dari Kebenaran.