Langsung ke konten utama

Fanatisme

Ketika sebuah ke Fanatikan seseorang berujung pada putusnya tali silaturahim.

Kita hidup di dunia ini pasti memiliki sebuah idola atau hobby istilahnya.
Dengan Hobby itu kita dapat mengeksplor diri kita. Namun apa jadinya jika sebuah hobby yang kita tekuni menjurus kepada Fanatisme yang berlebihan.

Dimana kita selalu membanggakan hal hal yang kita sukai.
Dimana kita selalu membenarkan semua hal yang kita sukai.

Apa jadinya hidup sosial kita jika kita hanya mementingkan diri sendiri?

Itu hak anda suka akan sesuatu.
Itu hak anda mau menganggap benar tentang hobby anda.

Tapi ayolah. Janganlah kalian menghina atau mengejek hal yang disukai orang lain.

Hobby anda di ejek atau di hina tidak mau.
Tapi anda suka mengejek hobby orang lain.

Buka mata mu saudaraku.

Tidak ada yang sempurna di dunia ini.
Bahkan tentang Hobby sempurnamu. Itu tidak sempurna!

Jangan hanya tertuju pada satu objek.
Berpikirlah sebelum melontarkan sebuah statement.

Fanatik boleh, Asal jangan berlebihan. Atau bahkan sampai men-Tuhankan nya.

Jika sudah begini, Putus silaturahim. Siapa yang harus disalahkan?
Tidak ada yang ingin disalahkan.

Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang egois. Maka dari itu kita dituntut untuk bisa menahan rasa itu, dan menciptakan suatu kehidupan bermasayarakat yang harmonis.

Komentar

  1. haha ciye buyung, keren2 yung ini bacaanya ..sip pokoke cocok kamu jadi penulis udah gak usah kuliah yung

    BalasHapus

Posting Komentar

Popular Posts

Jenuh

Kalian tau? Awal mula seseorang mendapat sebuah kesenangan dalam melakukan suatu hal. Mereka pasti akan sangat sangat antusias dalam melakukan hal tersebut. Sigap, cepat, cekatan. Persetan dengan tenaga yang terkuras habis. Lantas bagaimana jika sebuah kesenangan yang antusias tersebut sudah tidak menjadi prioritas, menjadi sebuah kebosanan dalam diri kita? Ya, kalian pasti akan angin anginan dalam melakukan hal tersebut. Malas. Baru akan melakukan saja sudah mengeluh cape'. Ya harus bagaimana lagi. Mood kita akan sesuatu itu sudah terkikis. Tidak timbul lagi sebuah kesenangan dalam melakukan hal itu. Monoton. Mencoba menciptakan variasi baru juga mungkin hanya bertahan sebentar. Butuh penyemangat diri, bukan sebuah kalimat motivator yang berada di mading kampus, atau billboard gede di tengah persimpangan. bukan kata-kata manis seorang motivator handal. Saya rasa itu sama saja. Tidak akan mengubah antusiasme kalian. Mungkin beberapa kasus memang bisa di atasi dengan cara ...

Malam

Terjaga aku karena Kafein.. Sementara gumpalan awan hitam yang mungkin karena malam menutup sebagian dari wajah rembulan.. Bintang sedang sedikit, mungkin 3 sampai 4.. Dengan diberi imbuhan ratusan dibelakangnya.. Dan tiba-tiba aku teringat bintang gemuk yang kelihatan kecil, cantik, dan aku suka.. Tapi dia bukan kejora yang dibicarakan para orang tua agar anak kesayangan mereka terlelap.. Dia sedang bermimpi bersanding dengan bulan.. Senangnya.. Mereka sama-sama di antariksa, mungkin bisa saling bertemu berpapasan dan bertukar senyum. Sementara di bumi, aku menyaksikan bersama segala dingin angin malam, mereka bersanding menemani malam setiap makhluk bermata.. Ya, aku tengah sendiri berdiri di pinggir jalan. Memandang dengan seksama setiap roda yang mengangkut tuannya. Ya, aku sedang berpikir bagaimana caranya agar sesuatu yang dilepas akan dirasa ikhlas. Ya, truk roda 6 itu menghantam pembatas jalan. Terguncang terbalik menghunus warung didepan. Ya, takdir memang...

Jujur atau Menjujurkan

Kalian pasti senang dipuji. Senang sekali. Itu pasti. Tapi pernahkah kalian merasa bahwa Pujian yang kalian rasakan itu sebenarnya dapat membuat anda menjadi seorang Yang berbeda? Ya berbeda. Cenderung lebih Malas. Malas untuk Instropeksi. Karena merasa sudah baik atau benar. Sejujurnya, pujian yang dilontarkan seseorang kepada kalian itu tidak semuanya benar. Bisa jadi itu adalah sebuah "pemanis" agar kamu dan dia lebih dekat. Terkadang jujur akan kekurangan atau kejelekan seseorang itu lebih baik dari pada bohong akan kebaikannya. Tapi kalian harus mencari waktu yang tepat untuk mengungkapkannya. Jangan sampai kau membuat dia menjadi sakit hati dengan kejujuranmu. Kata-Kata yang enak didengar cenderung meninabobokkan orang, Tetapi belum tentu bermanfaat dan sering mencelakakan. Berbicara jujur adalah dasar dari Kebenaran.